Senin, 26 September 2011

Pengaruh obat pada Kehamilan




BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Wanita hamil normal adalah individu sehat yang seharusnya hanya memerlukan suplementasi asam folat untuk memenuhi kebutuhan janin. Obat adalah suatu produk buatan yang hanya diberikan bila ada indikasi medis, termasuk yang namanya vitamin. Setiap tenaga kesehatan dan pasien perlu menimbang secara rasional, apakah perlu memperoleh obat. Sikap berhati-hati menggunakan obat perlu dimiliki wanita hamil. Sikap itu didasari kenyataan terpengaruhnya calon bayi bila wanita hamil tersebut menggunakan obat yang sebagian besar merupakan bahan kimia itu. Namun sikap ini jangan pula dilanjuti ketakutan menggunakan obat. Kalau memang diperlukan, obat akan jauh bermanfaat.
Masa Kehamilan dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama disebut trimester pertama kehamilan (tiga bulan pertama masa kehamilan). Tahap ini merupakan tahap paling kritis karena pada tahap ini berlangsung proses pembentukan organ-organ penting bayi. Dalam tahap ini janin sangat peka terhadap kemungkinan kerusakan yang disebabkan obat, radiasi dan atau infeksi yang menyerang. Penyebab kerusakan terhadap calon bayi tersebut disebut teratogen . pemberian obat-obat tertentu boleh jadi akan memberikan kecacatan lahir.
Pada tahap ini hindarilah pemakaian obat yang tidak perlu dan tidak diketahui keamanannya. Tahap selanjutnya adalah trimester kedua kehamilan (bulan keempat sampai dengan bulan keenam masa kehamilan). Organ bayi sudah terbentuk. Denyut jantung sudah dapat didengar dan tulang belakang sudah dapat terlihat dengan peralatan radiologi. Beberapa obat boleh jadi akan mempengaruhi perkembangan si janin yang dimanifestasikan dengan rendahnya berat badan bayi ketika dilahirkan. Tahap terakhir adalah trimester ketiga kehamilan (bulan ketujuh hingga bayi dilahirkan). Pada tahap ini resiko terbesar adalah kesulitan bernafas pada bayi baru lahir. Beberapa obat dapat mempengaruhi persalinan yang di manifestasikan bayi lahir prematur maupun calon bayi lebih lama dalam kandungan. Untuk memetakan obat mana yang aman bagi wanita hamil saat ini mengacu kepada percobaan-percobaan terhadap binatang, dan pengamatan terhadap penggunaan obat ketika diedarkan. Percobaan yang sanga luas terhadap wanita hamil bagi obat baru yang akan diedarkan memang tidak ada dan tidak akan pernah ada mengingat tidak etis menggunakan wanita hamil sebagai obyek penelitian. Sebagai rujukan yang paling dipercaya kalangan medis untuk sesuatu obat itu aman atau tidak untuk wanita hamil adalah Pedoman yang disusun US FDA (Badan POM Amerika Serikat).

1.2     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah obat dan kehamilan ini adalah untuk pemenuhan tugas kuliah dan sebagai acuan pembelajaran mahasiswa mengenai obat dan penggunaannya pada ibu hamil, apakah obat tersebut aman digunakan oleh ibu hami atau tidak. Semoga memberikan keridhoan atas niat dan usaha kecil ini. Selain itu semoga senantiasa meluruskan langkah saya bila ada silap dan salah melalui kritikan dan saran dari dosen pengajar dan teman-teman sekalian.

BAB II
ISI

2.1 Definisi
            Obat adalah suatu zat yang dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan efek pengobatan (terapi) bila diberikan pada individu yang sakit atau memerlukan pengobatan. Mengingat obat bukan dihasilkan secara alami, tetapi buatan, maka obat termasuk zat asing yang bila diberikan kepada ibu hamil berpotensi menimbulkan efek samping pada ibu dan janin yang dikandungnya.
Obat diakui terutama karena manfaat terapeutiknya kendati obat juga sangat berpotensi untuk membahayakan kesehatan orang yang menggunakannya. Pemberian obat pada ibu hamil harus dipikirkan efek obat terhadap ibu dan tidak boleh melupakan pengaruh atau efek samping obat pada janin. Keberadaan obat pada ibu hamil dapat ditinjau dari 3 kompartemen, yaitu kompartemen ibu, kompartemen plasenta, dan kompartemen fetal.
Pada ibu hamil tumbuh unit fetoplasental dalam uterus. Hormon plasenta mempengaruhi fungsi traktus digestivus dan motilitas usus. Demikian pula filtrasi glomerulus meningkat. Resorbsi inhalasi alveoli paru juga terpengaruh. Resorbsi obat pada usus ibu hamil lebih lama, eliminasi obat lewat ginjal lebih cepat, dan resorbsi obat inhalasi pada alveoli paru bertambah. Pada awal trimester dua dan tiga akan terjadi hidraemia, volume darah meningkat sehingga kadar obat relatif turun. Kadar Albumin relatif menurun sehingga pengikat obat bebas berkurang. Maka, obat bebas dalam darah ibu meningkat.

                Pada unit fetoplasental terjadi pula filtrasi obat. Plasenta sebagai unit semi permiabel dapat mengurangi atau mengubah obat pada sawar plasenta. Demikian pula obat yang masuk sirkulasi fetal, kadar/dosis obat dapat berpengaruh baik ataupun jelek pada organ-organ vital janin. Hal ini dapat meningkatkan kelainan organ atau pertumbuhan janin intrauterin. Jenis obat, dosis yang tinggi, dan lama paparannya akan berpengaruh teratogenik pada janin, terutama pada trimester satu. Untuk itu perlu dipikirkan mengenai farmakokinetik obat pada ibu hamil dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan janin dan efek negatifnya.
2.2 Kenapa Harus Diberi Obat ?
Bila kita ingat bahwa obat merupakan zat atau benda asing yang mungkin saja dapat menimbulkan efek samping pada ibu hamil dan janin, maka pemebriannya harus berdasarkan alasan medis yang benar. Beberapa alasan medis kenapa seseorang perlu mendapat obat antara lain :
  • Makanan yang dikonsumsi tidak mampu memenuhi kebutuhan ibu hamil:
  • asam folat (lihat bahasan nutrisi ibu hamil).
  • Ada infeksi yang harus segera dihilangkan : misalnya ibu hamil menderita penyakit demam tifoid (tifus), maka harus diberikan antibiotika yang aman bagi janin dan juga dapat membunuh kuman-kuman penyebab demam tifoid tersebut.
  • Ada penyakit yang harus dikendalikan dengan obat : misalnya penyakit kencing manis pada kehamilan dengan gula darah yang tinggi (lebih dari 200 mg/dl) memerlukan suntikan insulin setiap hari. Contoh lainnya adalah penyakit gondok (thiroid) memerlukan obat untuk mengatur kadar hormon tiroid.
  • Bagian dari standar pelayanan medis (SPM) : misalnya dalam asuhan persalinan normal (APN) diberikan obat oksitosin sebagai bagian dari
  • manajemen aktif kala tiga dalam mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Contoh lain adalah pemberian antibiotika pada pasien yang menjalani operasi sesar untuk mencegah terinfeksinya luka operasi atau untuk mengobati infeksi yang sudah terjadi sebelum operasi sesar dilakukan.
2.3 Apa yang Harus Diketahui Tentang Obat
Selain alasan medis kenapa ibu hamil diberi obat, ada hal lain yang harus ibu ketahui, misalnya dosis, cara pemberian, lama pemberian, khasiat obat, waktu kerja, interaksi dengan obat (zat) lain, harga, ketersediaan, dan efek samping atau tanda bahaya akibat mempergunakan obat tersebut.
  • Nama
Sebelum memberikan atau mempergunakan obat, perhatikan kembali nama obat dan nama pasien pada etikat tersebut untuk mencegah tertukarnya obat. Selain itu juga perhatiakn dosis dan cara pemberiannya.
  • Dosis
Setiap obat memiliki rentang keamanan dan khasiat pengobatan yang harus diketahui sebelum obat diberikan, misalnya kadar maksimal pemakaian antibiotika 2 gram per hari, maka dosis yang diberikan adalah maksimal 4 x 500 mg atau cukup dengan dosis 3 x 500 mg, jangan 3 x 1 gram. Kelebihan ataupun kekurangan dosis obat akan membahayakan pasien. Kelebihan menyebabkan semakin besar risiko efek samping obat, sedangkan kekurangan menyebabkan penyakitnya tidak sembuh sesuai harapan.
  • Cara Pemberian
Secara umum, obat diberikan melalui mulut (per oral) atau suntikan. Suntikan dapat diberikan intramuskular (ke dalam otot), intravena (ke dalam pembuluh darah vena), atau subkutan (di bawah kulit). Selain cara di atas, ada cara lain yang mungkin diperlukan dalam pemberian obat kepada ibu hamil, misalnya melalui vagina, anus (trans rectal atau supositoria), salep kulit, tetes hidung atau telinga, inhalasi melalui pernafasan atau intrakutan (suntikan pada kulit bagian permukaan). Cara pemberian obat juga berkaitan dengan waktu pemberian obat.
  • Waktu
Obat dapat diberikan apakah sekali sehari atau bahkan dapat lebih sering, misalnya hingga 5 kali per hari, tergantung berapa lama obat tersebut bekerja dalam tubuh. Waktu pemebrian dapat pagi hari, siang hari atau malam hari; atau dapat juga sebelum makan atau
  • Lama Pemberian
Lamanya pemberian obat tergantung jenis kelainan atau penyait yang diderita. Misalnya tablet asam folat akan diperlukan terutama saat kehamilan, tetapi obat tersebut dapat saja dikonsumsi selama hidup. Antibiotika untuk pengobatan dapat diberikan selama 5 – 10 hari, tergantung beratnya infeksi yang terjadi.
  • Khasiat
Khasiat obat adalah pengaruh positif dari obat yang diharapkan dapat mengatasi kekurangan atau penyakit pada ibu hamil. Misalnya ibu hamil yang menderita anemia akibat kekurangan zat besi, maka diperlukan obat yang mengandung zat besi. Wanita yang pernah mengalami atau melahirkan bayi tanpa tempurung kepala (anensefalus) harus mengonsumsi tablet asam folat 1 miligram per hari, minimal 3 bulan sebelum hamil dan dilanjutkan selama kehamilan dengan dosis minimal 800 mikrogram per hari. Asam folat diperlukan untuk mencegah terjadinya kelainan bawaan akibat defek tabung saraf (neural tube defect) seperti anensefalus atau spina bifida (tulang belakang terbuka).
  • Waktu Kerja
Setiap obat memiliki waktu kerja, yaitu kapan mulai bekerja, berapa lama daya kerjanya dan kapan berakhirnya. Obat-obatan yang diberikan langsung melalui aliran darah umumnya bekerja lebih cepat dibanding obat minum. Lama bekerja obat selain dipengaruhi oleh jenis obat, juga dipengaruhi oleh keadaan lambung dan usus ibu, kesehatan ibu, dan interaksi dengan obat lain.
  • Interaksi dengan Obat (zat) lain
Setiap obat yang diterima tubuh akan bereaksi, baik secara local pada tempat obat masuk maupun sesara sistemik (menyeluruh) setelah obat masuk sirkulasi darah. Pada obat yang diminum, harus diperhatikan apakah obat tersebut boleh diminum setelah makan atau apakah tidak boleh diminum setelah.
  • Harga
Pada ibu hamil jarang memerlukan obat yang mahal karena wanita hamil adalah orang sehat yang tidak selalu memerlukan obat. Asam folat dalam bentuk generik tidak mahal, demikian juga dengan multivitamin. Bila diperlukan antibiotika, cukup memakai antibiotika yang generic karena khasiat antibiotika bukan ditentukan oleh generic atau tidaknya, apalagi oleh harganya. Sebelum membeli, tanyakan betul berapa harganya agar pasien mampu membeli sejumlah obat yang dianjurkan dokternya.
  • Ketersediaan di apotek
Obat-obat tertentu harus diberikan dalam jumlah dan hari tertentu karena hal tersebut sangat penting dalam pengobatan, misalnya antibiotika untuk pengobatan infeksi tidak cukup bila hanya diminum satu hari saja, tetapi misalnya minimal 5 hari, tergantung beratnya penyakit yang diderita. Ada juga obat yang dipergunakan seumur hidup, misalnya suntikan insulin pada penderita kencing manis berat. Bila obat tersebut tidak tersedia, maka keberhasilan pengobatan menjadi terganggu, bahkan mungkin gagal sehingga dapat berakibat fatal.
  • Efek Samping (tanda bahaya)
Efek samping adalah pengaruh negatif dari obat yang diterima tubuh, dapat ringan ataupun berat. Setiap zat asing yang dikonsumsi, apalagi pada kelompok yang menderita alergi harus selalu diingat akan adanya potensi efek samping. Misalnya antibiotika yang akan diberikan melalui suntikan harus diuji dulu apakah bisa menimbulkan reaksi alergi atau tidak, uji tersebut disebut “skin test”. Akan diambil sedikit contoh dari antibiotika yang akan diberikan, kemudian disuntikkan intrakutan untuk melihat apakah timbul reaksi alergi atau tidak. Adanya reaksi alergi akan menyebabkan daerah disekitar suntikan merah, menebal, dan gatal, bila reaksi alerginya berat, mungkin saja timbul pembengkakan pada tubuh atau gatal seluruh tubuh. Bila timbul reaksi alergi, maka obat tersebut tidak boleh diberikan.
2.4 Farmakokinetik Obat Fetomaternal
      2.4.1 Perubahan Pada Traktus Digestivus
·         Motilitas uterus berkurang
·         Peningkatan sekresi mukosa, pH gaster meningkat (± 40 % lebih tinggi dari pada perempuan tidak hamil)
·         Mual / Muntah akan mempengaruhi dosis obat yang masuk traktus digestivus
Motilitas usus yang berkurang akan memperlama obat berada di traktus digestivus. Pengosongan lambung lebih lambat ± 50 %. Peningkatan pH gaster berakibat bufer asam basa terganggu. Reabsorpsi makanan dan obat akan menurun, sehingga efek tertopoetik obat berkurang.
Dengan banyaknya mual dan muntah makanan dan minuman yang masuk ke usus berkurang bahkan tidak ada (hiperemesis gravidarum). Obat – obat yang masuk sangat sulit apalagi bila formula obat menambah pH gaster. Komposisi makanan yang merangsang akan menambah cairan gaster yang dimuntahkan. Oleh karena itu, akan terkondisi suatu keadaan alkalosis pada darah ibu. Bila tidak ada makanan yang masuk, dan absorpsi sulit atau berkurang, maka akan diikuti metabolisme lemak dan protein yang menyebabkan asidosis darah ibu (hiperemesis gravidarum).
2.4.2 Pengaruh Pada Paru
Dengan adanya hormon plasenta, terutama progesteron, maka terjadi vasodilatasi kapilar alveoli. Volume plasma bertambah, curah jantung bertambah,  sirkulasi pulmonal bertambah, maka absorpsi di alveoli akan bertambah. Oleh karena itu, obat – obat inhalasi perlu dipikirkan dosisnya, jangan sampai berlebihan.

2.4.3 Distribusi Obat
Plasma darah dalam sirkulasi ibu hamil mulai trimester dua akan bertambah sampai ± 50 – 60 %. Ini berakibat curah jantung meningkat dan filtrasi glomerulus ginjal meningkat. Volume darah / plasma meningkat sampai ± 8.000 cc. Tambahan volume darah di plasenta, janin, dan amnion (± 60 %) dan dalam darah ibu 40 %. Sirkulasi darah bertambah di plasenta 80 % srta pada miometrium 20 . dengan demikian, kadar obat dalam sirkulasi ibu, distribusinya dalam organ relatif tidak sama.

2.4.4 Perubahan Kadar protein Darah
Pada kehamilan produksi albumin dan protein lain pada hepar sedikit bertambah, tetapi jika dibandingkan dengan meningkatnya volume plasma (hidraema) kadar albumin menurun, sehingga ada penurunan relatif (hipo albuminemia fisiologis). Sebagian protein akan berikatan dengan hormon progesteron, sehingga hanya sebagian albumin yang mengikat obat. Kesimpulan, kadar obat yang bebas aktif dalam sirkulasi lebih banyak pada ibu hamil dari pada ibu tidak hamil. Dengan demikian, terjadi peningkatan kadar obat pada ibu hamil. Penurunan kadar obat oleh karena hidraemia dan peningkatan kadar obat dalam plasma secara logis kadar obat tidak berkurang pada ibu.

2.4.5 Detoksikasi/Eliminasi Obat
·         Hepar
Pada kehamilan fungsi hati terganggu karena munculnya hormon dari plasenta. Maka, pembentukan protein agak menurun terutama albumin. Enzim-enzim hepar, protein plasma, dan imunoglobulin produksinya berkurang. Detoksikasi obat akan berkurang, kecuali ada obat tertentu yang meningkatkan aktivitas metabolisme sel hepar  akibat rangsangan enzim mikrosom oleh hormon progesteron. Beberapa jenis obat akan lebih menurunkan fungsi hepar  akibat kompetitif inhibisi dari enzim oksidase serta mikrosom akibat pengaruh hormon plasenta terutama progesteron dan estrogen.


·         Ginjal
Aliran darah glomerulus pada kehamilan meningkat 50 %. Glomerulus filtration rate meningkat . ini akibat dari peningkatan volume plasma darah dan hormon progesteron. Dengan Glomerulus filtration Rate (GFR) meningkat, maka ada beberapa jenis obat lebih cepat diekskresikan, misalnya golongan penisilin dan derivatnya, beberapa obat jantung (digoksin), dan golongan makrolid.
2.5 Kompartemen Plasenta
      Plasenta merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrien dari ibu ke janin. Bila dalam plasma darah ibu terdapat pula obat, maka obat ini akan melalui mekanisme transfer plasenta (sawar plasenta), membran bioaktif sitoplasmik lipoprotein sel trofoblas, endotel kapilar vili korialis, dan jaringan pengikat interstisial vili. Bila di dalam plasma darah ibu mengandung obat, maka obat ini akan melalui sawar plasenta dengan cara berikut.
  • Secara difusi pasif/aktif
  • Secara transportasi aktif dan fasilitatif fagositosis, semi permiabel membran sel trofoblas, dan mekanisme gradien elektro kimiawi.
Dengan kemampuan tersebut secara semi selektif obat dapat melewati sawar plasenta. Maka, obat dapat mengalami :
  • Kadar yang sama antara sebelum dan setelah melewati sawar plasenta
  • Kadar obat lebih sedikit setelah melewati sawar plasenta.
2.5.1 Metabolisme Detoksikasi dan Sawar Plasenta
Jenis obat, sifat obat, serta berat molekul dapat berbeda cara melewati sawar plasenta. Obat-obat yang melewati sawar plasenta mempunyai cara transportasi khusus berikut ini.
  • Obat yang bersifat lipofilik larut dalam lemak akan mudah menembus membran sel.
  • Obat yang terionisasi akan mengalami hambatan dalam menembus sawar.
  • Obat yang bersifat basa lemah (pH tinggi) lebih mudah menembus sawar.
  • Plasenta dapat mengadakan detoksikasi obat dengan memetabolisasi secara enzimatik, dehidrogenase, oksidasi, reduksi, hidrolisis, metilasi, atau asetilisasi. Akan tetapi, kemampuan tersebut tidaklah maksimal sehingga masih banyak obat yang lolos masuk ke sirkulasi janin.
  • Berat molekul obat yang besar sulit lewat sawar plasenta, hanya sebagian yang bisa lewat.
2.5.2 Keadaan Patologik
Plasenta pada ibu hamil dengan preeklampsia dan solutio plasenta akan mengalami perubahan sawar plasenta sehingga kadar obat yang melewati sawar tidak dapat disamakan dengan keadaan yang normal. Efek obat-obat oksitosik dan nikotin akan memperlambat obat melewati sawar plasenta yang akan menuju ke janin. Pada pertumbuhan plasenta pasca 3 bulan pertama atau masa plasentasi masih berlangsung. Ada beberapa pengaruh obat yang menyebabkan kematian jaringan plasenta. Fibrosis dan yang akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, struktur janin, bahkan terjadi IUFD atau death conceptus. Kesimpulan, pada periode embrio sampai plasentasi selesai obat-obat sangat rentan terhadapnya.
2.5.3 Transportasi
  • Difusi pasif
Cara difusi ini tidak perlu energi. Berlangsungnya difusi akan mengikuti rumus Ficks.



Rumus Ficks: q/t : KA (C2-C1)
                                                               D

q/t : kecepatan transfer zat obat
K : konstanta difusi/fisiko kimia dari zat obat
A : Luas membran
D : Ketebalan membran
C2-C1 : Perbedaan konsentrasi antara kedua pihak membran










  • Transportasi fasilitatif dan aktif
Obat akan melewati sawar dengan perantaraan :
-          Ada zat pembawa obat melewati sawar plasenta
-          Secara aktif : bila ada perbedaan konsentrasi kedua pihak dari mebran bioaktifnya.
-          Dengan fagositosis, pinositosis (seperti pada sel-sel mukosa yang lain) pada sel trofoblas.


2.6 Kompartemen Janin
      Dengan mengingat peran plasenta dalam memfiltrasi atau seleksi obat baik secara pasif maupun aktif serta banyak sedikitnya kadar obat yang masuk ke janin, maka perlu dipikirkan kadar obat yang akan berefek atau memberi risiko pada kesejahteraan janin/pertumbuhan organ janin. Bila obat mempunyai efek teratogenik pada janin, maka pemberian obat perlu dipertimbangkan. Sangat jarang pemberian obat untuk janin dengan melalui ibu. Yang paling sering adalah penggunaan obat untuk ibu, tetapi tanpa terpikirkan masuk ke dalam janin sehingga dapat merugikan kesejahteraan janin.
2.6.1 Periode Pertumbuhan Janin yang Dapat Berisiko Dalam Pemberian Zat
periode pertumbuhan janin yang dapat berisiko dalam pemberian zat atau obat pada pertumbuhannya adalah sebagai berikut.
  • Periode embrio 2 minggu pertama sejak konsepsi
Pada periode ini embrio belum terpengaruh oleh efek obat penyebab teratogenik.
  • Periode organogenesis yaitu sejak 17 hari sampai lebih kurang 70 hari pascakonsepsi sangat rentan terhadap efek obat, terutama obat-obat tertentu yang memberi efek negatif atau cacat bawaan pada pertumbuhan embrio atau janin.
  • Setelah 70 hari pascakonsepsi dimana organogenesis masih berlangsung walau belum sempurna, obat yang berpengaruh jenis obatnya tidak terlalu banyak bahkan ada yang mengatakan tidak berpengaruh.

Namun, periode trimester 2 awal sampai trimester 3 masih ada obat-obat tertentu yang dapat mempengaruhi fungsi organ-organ atau retardasi organ vital. Contoh ACE inhibitor pada trimester 2 dan 3 dapat menimbulkan disfungsi renal janin. Juga obat-obat yang lain atau zat-zat tertentu berpengaruh pada proses maturasi sistem saraf pusat karena mielinisasi sistem saraf berlangsung lama bahkan sampai periode neonatal. Dengan demikian, obat-obat tertentu dapat menimbulkan adanya serebril palsi, kemunduran pendengaran, dan keterlambatan mental. Obat-obat yang bisa melewati sawar plasenta dan masuk dalam sirkulasi janin akan berakibat baik atau jelek pada kesejahteraan janin. Hal ini terkait dengan metabolisme di dalam janin sendiri terhadap obat yang masuk. Kemampuan janin di dalam metabolisasi obat sangat terbatas. Protein mengikat obat pada plasma janin lebih rendah bila dibandingkan dengan protein plasma ibu hamil. Albumin janin belum cukup untuk mengikat obat, maka akan terjadi keseimbangan di mana kadar obat di dalam janin lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar obat di dalam plasma ibu. Dalam periode setelah 17 hari pascakonsepsi organ yang telah terbentuk dapat mengadakan detoksikasi atau memetabolisasi obat walau belum sempurna dan masih minimal. Dengan demikian, obat yang masuk ke dalam janin dapat tersimpan lama di dalam sirkulasi janin. Bilamana organ-organ sudah cukup berfungsi, hasil metabolisme dapat diekskresikan di dalam amnion. Sebagian obat dalam sirkulasi janin dapat pula kembali ke plasenta dan mengalami detoksikasi pada plasenta.  Bila kadar obat cukup tinggi di dalam sirkulasi janin, obat akan masuk ke jaringan janin. Bilamana jaringan organ masih belum sempurna, janin akan terpengaruh pertumbuhannya. Oleh karena itu, keseimbangan obat dalam plasma ibu dan plasma janin sangat penting diketahui. Transfer obat yang melewati sawar plasenta digolongkan sebagai berikut.

  • Tipe 1
Obat yang seimbang antara kadar di dalam plasma ibu dan di dalam plasma janin. Berarti terjadi transfer lewat sawar plasenta secara lengkap sehingga efek terapi tercapai pada ibu dan janin. Dalam hal ini masuknya obat dan ekskresi obat pada janin sama.
  • Tipe 2
Obat yang kadar pada plasma janin lebih tinggi daripada di dalam plasma ibu, artinya terjadi transfer yang baik lewat sawar plasenta, tapi ekskresi pada janin sangat sedikit.
  • Tipe 3
Obat yang kadar di dalam plasma janin lebih rendah daripada kadar yang di dalam plasma ibu, artinya transfer lewat sawar plasenta tidak lengkap.


      Pernah terjadi musibah bayi talidomid pada tahun 1993 dimana bayi-bayi itu mengalami kelainan cacat bawaan tanpa ekstermitas akibat ibu mengonsumsi talidomid. Untuk menghindari hal ini, dibuat daftar kategori obat oleh badan pengawas obat Australia (TGA – Therapeutic Good Administration).




2.6.2 Kategori Obat Pada Ibu Hamil Berdasarkan Risiko Janin (FK UGM Yogyakarta)

Sumber : Pemakaian obat pada kehamilan dan menyusui, Bagian Farmakologi dan Toksikologi FK UGM Yogyakarta, 2006.

2.6.2 Kategori Obat Pada Ibu Hamil Berdasarkan Risiko Janin (US FDA)
United State Food and Drug Administration (US FDA) juga menentukan kategori keamanan penggunaan obat selama kehamilan. Kategori adalah A, B, C, D, dan X.
·               Kategori A :  Penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding tidak menunjukkan peningkatan risiko abnormalitas terhadap janin.
·                 Kategori B : Penelitian pada hewan tidak menunjukkan bukti bahwa obat berbahaya terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil. Atau penelitian pada hewan menunjukkan efek yang tidak dikehendaki, tetapi penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil, tidak menunjukkan risiko terhadap janin.
·                   Kategori C : Penelitian pada hewan telah menunjukkan efek yang tidak dikehendaki terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding ibu hamil. Atau belum dilakukan penelitian pada hewan dan tidak ada penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil.
·                   Kategori D : Terdapat penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil atau pengamatan menunjukkan risiko bagi janin. Namun, harus dipertimbangkan manfaat pemberian obat dibandingkan risiko yang dapat ditimbulkan.
·                  Kategori X : Penelitian yang memadai pada ibu hamil dengan menggunakan pembanding hewan, telah menunjukkan bukti positif terjadinya abnormalitas janin. Penggunaan obat dengan kategori risiko ini di kontraindikasikan pada ibu yang sedang hamil atau akan hamil.

 
Beberapa Kategori Obat yang Berisiko Pada Masa Kehamilan


 
Sumber : Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM, 2006*
2.7 Farmakoterapi pada Janin
Pada suatu saat bila diberikan pengobatan kepada janin dengan sengaja obat diberikan melalui ibu. Misalnya antibiotika, antiaritma, vitamin K, Deksametason, dan Bethametason dapat melalui sawar plasenta dan masuk dalam sirkulasi janin dengan baik oleh karena detoksikasi atau metabolisme pada plasenta hanya sedikit. Kedua obat Deksametason dan Betametason sering digunakan sebagai perangsang pematangan paru janin. Ada beberapa obat yang masuk di dalam sirkulasi janin yang seimbang dengan obat dalam sirkulasi ibu dan diekskresikan dengan baik oleh janin dan masuk ke dalam amnion, misalnya flekainid.
2.7.1 Teratogenesis
Penggunaan obat yang dijual bebas selama kehamilan perlu dipertimbangkan dan diberikan saran yang bersifat retrospektif dimana penggunaannya dapat memberikan efek negatif dan obat mana yang perlu diberikan secara hati-hati serta kapan pemberian obat yang paling aman pada usia janin yang tepat. Teratogenesis adalah defek anatomi, pertumbuhan pada janin yang dapat meliputi :
1.  Defek struktur mayor atau minor organ janin
2.  Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
3.  Kematian janin (IUFD)
4.  Kegagalan implantasi dan pertumbuhan embrio
5.  Pengaruh neonatal seperti gangguan neurologik akibat obat-obat yang mempengaruhi pertumbuhan mielinisasi jaringan saraf atau pemberian obat-obat yang mempunyai efek karsinogenesis pada neonatal dan anak.
Moore mendefinisikan teratogenesis sebagai disgenesis organ janin baik secara struktur maupun fungsi. Teratogenesis bermanifestasi sebagai gangguan pertumbuhan, kematian janin, pertumbuhan karsinogenesis, dan malformasi. Teratogenesis atau abnormalitas bervariasi dalam tingkat kelainan organ ataupun fungsinya, bisa relatif ringan bisa sangat berat, bahkan tidak terkoreksi. Ada suatu keadaan malformasi yang tidak terkoreksi serta mengancam jiwa janin. Suatu obat atau bahan kimia dikatakan teratogenik bila seorang ibu hamil mengonsumsi obat sengaja atau tidak yang menyebabkan terjadinya abnormalitas struktur janin atau bayi.

Obat yang menimbulkan atau bersifat teratogenik antara lain berupa: abnormalitas kromosom, gangguan implantasi, embrio genesis, konseptus mati, malformasi struktur, IUGR, IUFD, kerusakan saraf sentral- nervus kranialis, abnormalitas mental, atau retardasi mental.  

Obat-obat yang Terbukti Kuat Menimbulkan Efek Teratogenik. 


2.7.2 Kerentanan Janin Terhadap Obat
Tiap individu atau janin mempunyai afinitas yang berbeda-beda dalam merespons obat. Plasenta sangat berperan dalam penyaluran obat ke dalam janin. Kelainan plasenta ataupun penyakit pada ibu misalnya penyakit virus, infeksi kuman, preeklampsia, gagal ginjal, atau penyakit jantung sangat berpengaruh terhadap penyaluran obat ke janin, oksigenisasi janin, bahkan detoksikasi obat tidak baik. Dengan demikian, terjadi afinitas janin menjadi lebih besar.
Demikian pula kondisi genetik atau kromosom sangat berpengaruh dalam afinitas penyerapan obat serta metabolisme oabt pada janin. Efek teratogenik pada penelitian hewan uji belum tentu sama dengan efek pada manusia. Umumnya pada hewan uji dosis rendah obat yang memberikan efek teratogenik akan menimbulkan pula efek teratogenik pada manusia. Demikian tinggi rendahnya kadar obat yang masuk janin sangat berpengaruh pada toksisitas pada janin.
Efek obat terhadap janin berbeda-beda bergantung dari periode kehamilan atau unsur janin intrauterin. United State Food and Drug Administration (US FDA) melakukan klasifikasi obat berdasarkan periode kehamilan. Tabel ini memberi gambaran antara kemampuan menembus plasenta pada periode kehamilan.

Kategori Obat Berdasarkan Periode Kehamilan dan Kemampuan Menembus Plasenta
 
 
Keterangan :\
(*) : Berkaitan dengan peningkatan kematian perinatal, perdarahan neonatus, penurunan berat badan lahir, perpanjangan masa kehamilan dan persalinan, dan kemunmgkinan teratogenik. 
(#) : berkaitan dengan kejadian oligohidramnion, penutupan duktus arteriosus secara prematur, hipertensi pulmoner pada janin, nefrotoksisitas pada janin dan perdarahan periventrikular. 

2.7.3 Waktu Paparan Obat pada Periode Embrio/Janin dan Efek Teratogenikny 
Seperti diketahui periode pertumbuhan hasil konsepsi telah terbagi menjadi beberapa periode. Periode ini mempunyai kerentanan masing-masing terhadap obat serta reaksi masing-masing organ pada janin berbeda-beda. Di bawah ini dipaparkan obat-obat pada periode pertumbuhan janin.
Obat yang Kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan Pada 3 Bulan Pertama Kehamilan.

Obat yang kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan Setelah 3 Bulan Pertama Kehamilan

2.8 Konseling dan Pemilihan Obat pada Ibu Hamil
Tujuan menghindari atau mengurangi abnormalitas janin.
·         Hindari pemberian obat pada periode pertama janin.
·         Hindari makanan minuman dan zat yang tidak diperlukan oleh janin dalam pertumbuhan misalnya merokok, alkohol, obat sedatif, OAD. Atau jamu-jamu tradisional yang belum teruji.
·         Hindari Pemberian oabt polifarmaks, terutama bila pemberian dalam waktu yang lama.
·         Berikan obat yang telah jelas aman dan mempertimbangkan keperluan pengetahuan primernya.
·         Pergunakan pedoman pengunaan obat resmi dan daftar obat-oba yang aman demikian pula pemberian obat=onat terbatas atau yang tidak diperbolehkan pada ibu hamil.
2.9 Contoh Kategori Obat
CONTOH OBAT KATEGORI A (nama generik): Ascorbic acid (vitamin C) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Doxylamine, Ergocalciferol *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US RDA*, Folic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi 0,8 mg per hari*, Hydroxocobalamine *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Liothyronine, Nystatin vaginal sup *masuk kategori C jika digunakan per oral dan topikal*, Pantothenic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Potassium chloride, Potassium citrate, Potassium gluconate, Pyridoxine (vitamin B6), Riboflavin *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Thiamine (vitamin B1) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, Thyroglobulin, Thyroid hormones, Vitamin D *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US RDA*, Vitamin E *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*.
CONTOH OBAT KATEGORI B (nama generik): Acetylcysteine, Acyclovir, Amiloride *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan*, Ammonium chloride, Ammonium lactate *topical*, Amoxicillin, Amphotericin B, Ampicillin, Atazanavir, Azatadine, Azelaic acid, Benzylpenicillin, Bisacodyl, Budesonide *inhalasi, nasal*, Buspiron, Caffeine, Carbenicillin, Camitine, Cefaclor, Cefadroxil, Cefalexin, Cefalotin, Cefamandole, Cefapirin, Cefatrizine, Cefazolin, Cefdinir, Cefditoren, Cefepime, Cefixime, Cefmetazole, Cefonicid, Cefoperazone, Ceforanide, Cefotaxime, Cefotetan disodium, Cefoxitin, Cefpodoxime, Cefprozil, Cefradine, Ceftazidime, Ceftibuten, Ceftizoxime, Ceftriaxone, Cefuroxime, Cetirizine, Chlorhexidine *mulut dan tenggorokan*, Chlorpenamine, Chlortalidone *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan*, Ciclacillin, Ciclipirox, Cimetidine, Clemastine, Clindamycin, Clotrimazole, Cloxacillin, Clozapine, Colestyramine, …. dll ….. dll … buanyak :P
CONTOH OBAT KATEGORI C (nama generik): Acetazolamide, Acetylcholine chloride, Adenosine, Albendazole, Albumin, Alclometasone, Allopurinol, Aluminium hydrochloride, Aminophylline, Amitriptyline, Amlodipine, Antazoline, Astemizole, Atropin, Bacitracin, Beclometasone, Belladonna, Benzatropine mesilate, Benzocaine, Buclizine, Butoconazole, Calcitonin, Calcium acetate, Calcium ascorbate, Calcium carbonate, Calcium chloride, Calcium citrate, Calcium folinate, Calcium glucoheptonade, Calcium gluconate, Calcium lactate, Calcium phosphate, Calcium polystyrene sulfonate, Capreomycin, Captopril, Carbachol, Carbidopa, Carbinoxamine, Chloral hydrate, Chloramphenicol, Chloroquine, Chlorothiazide, Chlorpromazine, Choline theophyllinate, Cidofovir, Cilastatin, Cinnarizine, Cyprofloxacin, Cisapride, Clarithromycin, Clinidium bromide, Clonidine, Co-trimoxazole, Codeine, Cyanocobalamin, Deserpidine, Desonide, Desoximetasone, Dexamethasone, Dextromethorphan, Digitoxin, Digoxin, Diltiazem, Dopamine, Ephedrine, Epinephrine, Fluconazole, Fluocinolone, Fosinopril, Furosemide, Gemfibrozil, Gentamicin, Glibenclamide, Glimepiride, Glipizide, Griseofulvin, Hydralazine, Hydrocortisone, Hyoscine, Hyoscyamine, Isoniazid, Isoprenaline, Isosorbid dinitrate, Ketoconazole, Ketotifen fumarate, Magaldrate, Mefenamic acid, Methyl prednisolone, …dll …dll … :lol:
CONTOH OBAT KATEGORI D (nama generik): Amikacin, Amobarbital, Atenolol, Carbamazepine, Carbimazole, Chlordizepoxide, Cilazapril, Clonazepam, Diazepam, Doxycycline, Imipramine, Kanamycin, Lorazepam, Lynestrenol, Meprobamate, Methimazole, Minocycline, Oxazepam, Oxytetracycline, Tamoxifen, Tetracycline, Uracil, Voriconazole… dll … dll.
CONTOH OBAT KATEGORI X (nama generik): Acitretin, Alprotadil *parenteral*, Atorvastatin, Bicalutamide, Bosentan, Cerivastatin disodium, Cetrorelix, Chenodeoxycholic acid, Chlorotrianisene, Chorionic gonadotrophin, Clomifen, Coumarin, Danazol, Desogestrel, Dienestrol, Diethylstilbestrol, Dihydro ergotamin, Dutasteride, Ergometrin, Ergotamin, Estazolam, Etradiol, Estramustine, Estriol succinate, Estrone, Estropipate, Ethinyl estradiol, Etretinate, Finasteride, Fluorescein *parenteral*, Flurouracil, Fluoxymesterone, Flurazepam, Fluvastatin, Floritropin, Ganirelix, Gestodene, Goserelin, Human menopausal gonadotrophin, Iodinated glycerol, Isotretinoin, Leflunomide, Leuprorelin, Levonorgestrel, Lovastatin, Medrogestrone, Medroxyprogesterone, Menotrophin, Mestranol, Methotrexate, Methyl testosterone, Mifeprestone, Miglustat,Misoprostol,Nafarelin,nandrolone,Nicotine*po*,Norethisterone,Noretynodrel,Norgestrel, Oxandrolone,Oxymetholone,  Oxytocin, Pravastatin, Quinine, Raloxifene, Ribavirin, Rosuvastatin, Simvastatin, Stanozolol, Tazarotene, Temazepam, tetosterone, Thalidomide, Triazolam, Triproretin, Urofolitropin, Warfarin.
KESIMPULAN 
Pemberian obat harus berdasarkan indikasi medis, jangan sembarangan memakan obat karena setiap obat mempunyai karakteristik sendiri dan memiliki potensi untuk menimbulkan reaksi alergi. Bila dijumpai efek samping obat, hentikan segera obatnya dan segera ke rumah sakit bila efek  sampingnya berat. Obat adalah suatu zat yang dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan efek  pengobatan (terapi) bila diberikan pada individu yang sakit atau memerlukan pengobatan. Mengingat obat bukan dihasilkan secara alami, tetapi buatan, maka obat termasuk zat asing yang bila diberikan kepada ibu hamil berpotensi menimbulkan efek samping pada ibu dan janin yang dikandungnya.
DAFTAR PUSTAKA 
1. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
    Jakarta.2008 
2. De Swiet M, Chamberlain G, Bennett P.Basic Science in Obstetrics And ginecology    2004
3.  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/13/iptek/77553.htm


Tidak ada komentar:

Posting Komentar